6 Langkah Aman Memulai Investasi Saham

Investasi saham memang memiliki risiko, namun bukan berarti tidak ada cara untuk berinvestasi saham dengan aman. Simak langkah-langkah berikut untuk mengawali perjalanan investasi sahammu!

Setelah mengenali berbagai produk investasi beserta ragam risiko pada artikel sebelumnya, mungkin kamu sekarang sudah dapat memilih produk investasi apa yang cocok dengan profil risiko yang bisa kamu tanggung.

Sebagian mungkin akan memilih produk investasi seperti obligasi negara karena memiliki risiko gagal bayar yang rendah dan harga jual/beli yang tidak volatil dan sebagian akan memilih produk investasi saham karena memiliki komitmen waktu belajar yang tinggi disertai dengan kondisi objektif yang mendukung. Tetapi, sebelum jauh berbicara tentang potensi keuntungan dari saham, seorang investor pemula perlu untuk membekali diri dengan kerangka berpikir yang matang.

Tidak jarang kami menemukan seorang investor pemula melakukan kesalahan umum seperti membeli saham hanya berdasarkan rekomendasi dari seseorang yang ia percaya (teman, keluarga, influencer dan sebagainya), membeli saham dengan dasar Fear of Missing Out (FOMO)  hanya karena sedang ramai dibicarakan dan juga melempar pertanyaan yang oversimplified seperti “saham apa nih yang bagus untuk dibeli sekarang?”.

Hal ini dapat berakibat fatal, karena investor pemula tersebut berpotensi untuk “membeli kucing dalam karung”. Ia tidak sepenuhnya mengetahui apa yang sedang ia lakukan dan apa yang sedang ia beli. Kami percaya investor dengan perilaku seperti ini tidak akan bertahan lama untuk menghadapi volatilitas pasar saham yang bergerak naik dan turun di setiap harinya. Ia akan merasa sangat gelisah ketika nilai saham di portofolionya mengalami floating loss dan akan terlalu senang ketika mengalami floating profit.

Risk comes from not knowing what you are doing

Warren Buffet

Kami memahami bagaimana pasar saham dapat mempengaruhi kondisi psikologis seorang investor. Tentu lebih nyaman untuk memandang kondisi portofolio yang +50% daripada -50%, hanya saja jangan sampai fluktuasi harga saham membuat investor menjadi overthinking dan anxiety. Maka dari itu, mari kita bangun rasa tenang dan percaya diri dengan mengikuti langkah-langkah berinvestasi dengan aman sebagai berikut.

1. Belajar Dahulu, Buka Rekening Saham Nanti Saja

Sadarilah bahwa tidak ada yang menuntutmu untuk cepat-cepat membuka rekening saham dan membeli saham selain dirimu sendiri. So, please take it easy!

Alih-alih terpancing untuk mengikuti influencer favoritmu yang seringpamer cuan di Tiktok dan juga Instagram, lebih baik alokasikan waktu untuk mempelajari hal-hal yang mendasar. Kami memahami di era social media seperti sekarang terdapat tendensi untuk “belajar melalui social media”, tidak dapat dipungkiri dengan terbatasnya waktu yang kita miliki hal ini terasa sangat convenient sebagai jalan pintas untuk kita memahami berbagai fenomena yang kita anggap menarik untuk diikuti.

Sayangnya, tidak semua informasi yang disebarluaskan melalui social media dapat ditelan mentah-mentah. Kami menyarankan untuk memulai perjalananmu untuk berinvestasi saham dengan belajar melalui jalur yang lebih konvensional (old school) yaitu dengan membaca berbagai literatur yang ditulis oleh orang-orang terpercaya dengan contoh sebagai berikut:

  1. Buku The Five Rules for Successful Stock Investing, karya Pat Dorsey (Founder Dorsey Asset Management)
  2. Surat-surat yang ditulis oleh Terry Smith (Founder Fundsmith) yang bisa diakses di sini
  3. Investment Approach dari Akre Capital Management yang bisa diakses di sini
  4. Buku Narrative and Number, karya Aswath Damodaran (professor keuangan dari The New York University Stern School of Business)
  5. Surat-surat yang ditulis oleh Warren Buffet dan Charlie Munger yang bisa diakses di sini

Kami juga memiliki daftar rekomendasi literatur lainnya yang sudah pernah kami ringkas sebagai tambahan referensi rekan-rekan agar memiliki kerangka berpikir investasi saham yang matang. Mari pupuk pemahaman yang baik terlebih dahulu sebelum terburu-buru membuka rekening saham dan membeli saham pertamamu.

2. Kuasai Konsep-Konsep Kunci dalam Investasi Saham

Terdapat banyak sekali konsep-konsep dalam investasi saham yang perlu kita ketahui dan kita pahami, namun sebagai perawalan kami memilih beberapa konsep yang kami anggap penting untuk diketahui oleh investor saham pemula sebagai berikut.

A. Circle of Competence

Circle of Competence

Circle of Competence merupakan gambaran untuk mengukur tingkat pemahaman kita terhadap suatu industri. Konsep ini sangat penting bagi investor agar dapat mengukur sedalam apa pengetahuan yang dimiliki beserta limitasinya. Sederhananya, memahami konsep ini akan membantu kita untuk memisahkan industri apa yang benar-benar kita pahami dan industri apa yang tidak kita pahami.

Kami menyarankan untuk menggunakan konsep ini sebagai titik awal untuk mempelajari suatu perusahaan secara komprehensif. Mulailah dengan sesuatu yang sudah kita pahami, hal ini akan mempermudah kita untuk memahami seluk-beluk model bisnis dari perusahaan yang kita pelajari.

B. Economic Moat

Economic Moats

“Hal paling penting yang saya cari dari bisnis adalah parit (moat) yang lebar dan bertahan lama di sekitarnya … melindungi istana yang bagus dengan raja yang jujur di dalamnya.”

Warren Buffett

Economic moat adalah konsep yang menganalogikan tingkat ketahanan competitive advantage yang dimiliki oleh suatu perusahaan sebagai parit yang melindungi sebuah istana untuk melindungi diri dari kompetitornya.

Economic moat akan membuat perusahaan dapat bertumbuh dan menciptakan nilai bagi pemegang saham secara berkelanjutan dalam jangka panjang.

Menurut Morningstar, Inc, terdapat lima jenis economic moat yang dapat menjadi acuan sebagai berikut.

Switching Cost

Bisnis yang diuntungkan karena konsumennya harus membayar switching cost (biaya berpindah) jika berpindah ke kompetitor lainnya. Sebagai contoh, produk tabungan dari perbankan, konsumen akan membayar biaya berpindah berupa waktu jika ingin memindahkan tabungannya ke bank lainnya

Network Effect

Bisnis yang diuntungkan jika semakin banyak orang yang menggunakan produknya karena menciptakan network effect (efek jaringan). Sebagai contoh, bertambahnya seller dan buyer di suatu platform e-commerce.

Intangible Asset

Bisnis yang diuntungkan karena memiliki asset-asset tidak berwujud. Sebagai contoh, perusahaan media yang mempunyai intellectual property berupa film dan series yang populer di masyarakat dapat memonetisasinya ke dalam berbagai produk consumer ataupun pembuatan sekuel.

Cost Advantage

Bisnis yang diuntungkan karena memiliki biaya operasional yang rendah. Sebagai contoh, perusahaan manufaktur yang memiliki akses kepada bahan baku yang murah kemudian menjualnya dengan harga yang tinggi dalam bentuk barang jadi.

Efficient Scale

Bisnis yang diuntungkan karena telah mencapai tingkat market share terbesar di industrinya. Sebagai contoh, perusahaan telekomunikasi yang memiliki skala jaringan yang sangat luas, sehingga perusahaan kompetitor tidak dapat membesarkan skala pasarnya.

Memahami konsep dan berbagai bentuk moat dapat membantu seorang investor untuk memiliki keyakinan tentang keberlanjutan dan keunggulan yang dimiliki oleh suatu perusahaan.

C. Compounding Machine

Compounding Machine adalah konsep investasi dari Chuck Akree yang memperhatikan 3 catatan penting yaitu hanya membeli perusahaan dengan bisnis luar biasa, hanya membeli perusahaan yang dikelola oleh manajemen terpercaya dan hanya membeli perusahaan yang mampu untuk melakukan reinvestment untuk menciptakan keuntungan yang lebih besar dikemudian hari.

Catatan 3 kaki

Menggunakan konsep ini akan membantu investor untuk lebih picky terhadap banyaknya pilihan-pilihan saham yang ditawarkan di pasar, secara tidak langsung kita akan memiliki demand kepada pasar saham untuk memiliki perusahaan-perusahaan dengan spesifikasi bisnis yang berkualitas dan berkelanjutan.

Selain itu, yang tidak kalah pentingnya adalah konsep ini memberikan pengertian bahwa sebagai pemegang saham minoritas sebenarnya kita sedang bermitra dengan manajemen dan juga pemegang saham pengendali (PSP).

Meskipun judulnya sama-sama sebagai pemegang saham, namun kita bukanlah tokoh utama yang dapat memberikan pengaruh kepada keputusan-keputusan yang dilakukan oleh perusahaan. Maka dari itu, kita harus memastikan bahwa kita sedang bermitra dengan orang-orang terepercaya dalam jangka panjang.

D. Intrinsic Value

Banyak investor saham yang mengabaikan valuasi karena dianggap sebagai suatu konsep yang sulit untuk dipraktikkan. Padahal yang membedakan saham dengan produk investasi lain seperti emas atau cryptocurrency adalah terdapatnya wealth creation berupa cashflow (arus kas) yang dapat menjadi hak bagi pemegang saham dalam bentuk future cash flow atau mudahnya kita sebut saja sebagai arus kas yang berpotensi untuk menjadi dividend. Itulah mengapa untuk mengukur intrinsic value (nilai intrinsik) dari suatu saham kita bisa menggunakan metode discounted cashflow (DCF)

Bila rekan-rekan sudah kepalang pusing hanya dengan membaca namanya saja, coba simak pengayaan berikut ini. DCF pada intinya adalah metode untuk mengestimasi potensi arus kas di masa depan yang dapat diterima oleh pemegang saham. Namun, nilai arus kas tersebut dipengaruhi oleh faktor pertumbuhan dan juga tingkat risiko yang dihadapi oleh perusahaan. Ingat saja 3 kata ajaib ini, arus kas, pertumbuhan dan risiko.

Jika kita sudah mendapatkan nilai valuasi intrinsiknya, baru kita bisa mendapatkan petunjuk terkait dengan sedang murah atau tidaknya harga suatu saham berdasarkan selisih harga saham saat ini dengan estimasi nilai intrinsik yang kita buat.

3. Mulai Membuat Analisis Perusahaan

Setelah belajar dan membangun kerangka berpikir yang lebih matang soal investasi saham, seorang investor perlu untuk membuat analisis saham sebelum melakukan pembelian. Sebagai panduan untuk menganalisis saham, berikut kami jabarkan hal-hal yang perlu dilakukan dan diperhatikan oleh seorang investor:

A. Mulai dengan Industri yang Sesuai dengan Circle of Competence Kita Masing-masing

Sesuai dengan penjelasan sebelumnya, untuk memudahkan pekerjaan di dalam menganalisis saham pilihlah perusahaan-perusahaan di dalam industri yang secara umum sudah kita pahami sebelumnya.

B. Mengumpulkan Data-data yang Diperlukan

Untuk menganalisis saham, tentu kita memerlukan data-data yang relevan agar bisa dielaborasi lebih lanjut. Kita bisa memanfaatkan data-data dari laporan tahunan perusahaan, presentasi perusahaan/public expose, prospektus IPO dan berbagai data lainnya yang dianggap relevan.

C. Merekap Laporan Keuangan

Agar bisa mendapatkan konteks cerita perkembangan bisnis suatu perusahaan dalam jangka panjang, kami menyarankan untuk merekap laporan keuangan berupa neraca, laporan laba-rugi dan arus kas selama 10 tahun ke belakang. Gunakanlah aplikasi seperti microsoft excel atau google sheets untuk merekap dan mempermudah proses selanjutnya.

Merekap laporan keuangan akan menjadi tugas yang paling memakan waktu bagi seorang investor, namun kami percaya dengan melakukannya akan sangat membantu kita untuk memahami progres bisnis perusahaan dari waktu ke waktu.

D. Menghitung Rasio-rasio Keuangan

Jika sudah melakukan rekapitulasi, selanjutnya investor perlu untuk mengolah angka-angka tersebut menjadi rasio-rasio keuangan untuk mencari petunjuk-petunjuk selanjutnya. Berikut ini adalah rasio-rasio keuangan yang penting untuk diketahui oleh seorang investor.

ROE (Return on Equity)

ROE

Dengan membagi laba bersih terhadap ekuitas perusahaan, kita dapat memahami seberapa baik tingkat return dari modal yang digunakan. Pikirkanlah seperti kita sedang membuka bisnis, tentu kita menginginkan pendapatan setinggi mungkin dengan modal seminim mungkin. Namun, nilai ROE yang asal tinggi saja juga belum tentu bagus, hindarilah nilai ROE yang terlihat tidak masuk akal misalnya seperti nilainya terlalu besar dan nilai yang minus.

Gross Profit Margin (GPM), Operating Profit Margin (OPM) dan Net Profit Margin (NPM)

GPM OPM NPM

Dengan menggunakan rasio keuangan GPM, OPM dan NPM kita dapat memahami seberapa efisien perusahaan untuk memperoleh labanya. GPM akan memberikan petunjuk tentang efisiensi perusahaan dari sisi biaya penggunaan bahan bakunya, OPM akan memberikan petunjuk tentang efisiensi perusahaan dari sisi biaya operasionalnya dan NPM akan memberikan petunjuk tentang efisiensi perusahaan dari sisi beban lainnya seperti beban keuangan yang berasal dari utang.

Semakin besar margin yang diperoleh perusahaan tentu semakin baik, namun yang perlu diperhatikan adalah tidak semua perusahaan perlu untuk mencetak margin yang tebal. Perusahaan yang ada di industri ritel biasanya memiliki margin yang tipis, hal ini dikarenakan perannya yang hanya menjadi jembatan antara manufaktur kepada konsumen akhir.

Asset Turnover

Asset Turnover

Dalam perspektif akuntansi, neraca akan mengkonversi liabilitas dan ekuitas menjadi aset yang akan dimanfaatkan oleh perusahaan untuk mencetak pendapatan. Bayangkan saja seperti kita membeli gerobak bakso untuk berjualan di pinggir jalan, gerobak tersebut beserta baksonya yang kita beli di pasar adalah aset yang bisa diperoleh dari modal yang kita punya ataupun dari liabilitas dalam bentuk utang yang kita pinjam.

Maka dari itu, sebenarnya kita bisa mengukur seberapa cepat perusahaan memanfaatkan asetnya untuk menciptakan pendapatan.

Semakin besar angka asset turnover maka semakin baik. Hal ini sebenarnya dapat menjawab kasus perusahaan ritel yang sebelumnya kita bahas dari sisi margin, meskipun perusahaan ritel memiliki margin tipis namun dapat dikompensasi dengan nilai asset turnover yang tinggi. Maka kita dapat beropini bahwa perusahaan ritel tersebut dapat menjual barang dengan cepat kepada konsumen akhir.

Financial Leverage

Financial; Leverage

Sebelumnya sudah disinggung bahwa di dalam neraca, aset tersusun dari liabilitas dan ekuitas, kemudian perusahaan akan menggunakan aset sedemikian rupa untuk menciptakan pendapatan. Maka sebenarnya, kita dapat mengukur seberapa banyak porsi aset yang dibiayai menggunakan liabilitas dengan menggunakan rasio financial leverage yang membagi aset terhadap ekuitas. Jika angka financial leverage di atas 1 maka terdapat lebih banyak aset yang dibiayai dengan liabilitas dibandingkan dengan modal.

Hal ini merupakan indikasi yang baik bagi investor, karena pemegang saham tidak perlu repot-repot untuk menyuntik dana melalui modal untuk menambah aset.

Tapi bukankah liabilitas artinya adalah utang? Bukankah kita seharusnya menghindari perusahaan yang memiliki banyak utang?

Betul, kami setuju dengan pernyataan tersebut. Hanya saja tidak semua penyusun angka liabilitas berasal dari utang berbunga misalnya seperti utang usaha. Masih banyak investor yang tidak jeli untuk melihat perbedaan antara utang tidak berbunga dan utang berbunga, mungkin saja hal ini terjadi dikarenakan ketidaktahuan seorang investor itu sendiri atau terlalu bergantung dengan aplikasi informasi saham. Hal ini sangat disayangkan karena dapat memicu salah persepsi terhadap kondisi keuangan perusahaan.

ROE Dupont Analysis

ROE Dupont

Jika rekan-rekan membaca dengan seksama, maka sebenarnya rasio ROE kemudian dapat dianalisis dengan menggunakan variable yang lebih luas, analisis ini disebut sebagai dupont analysis. Dengan dupont analysis, seorang investor dapat menggali cerita lebih dalam tentang sumber pembentuk angka ROE. Sama seperti contoh kasus perusahaan ritel yang memiliki margin tipis namun memiliki angka asset turnover yang tinggi.

Maka sebenarnya bisa saja terdapat perusahaan yang keuntungannya didukung dari tingginya pemanfaatan liabilitas yang diindikasikan dengan rasio financial leverage. Investor yang sudah duluan skeptis dengan kata “liabilitas dan utang” bisa saja kehilangan kesempatan emas untuk membeli perusahaan bagus walaupun didukung dengan liabilitas.

Masih banyak lagi rasio-rasio keuangan yang perlu dipelajari oleh investor seperti Debt to Equity (DER), Days Inventory Outstanding (DIO), Dividen Payout Ratio (DPR) dan rasio-rasio keuangan lainnya. Tetapi, mulai dengan kemampuan investor untuk melakukan ROE dupont analysis paling tidak dapat mendukung seorang investor untuk melihat benang merah dari sumber keuntungan perusahaan.

Hal yang perlu diperhatikan adalah investor soal rasio keuangan adalah investor harus selalu mencoba untuk mencari cerita dibalik angka yang ditunjukkan dari laporan keuangan. Jangan terima angka-angka tersebut secara mentah-mentah, pahamilah kejadian apa  yang terjadi dan tujuan perusahaan di masa depan.

E. Pelajari Sisi Kualitatif Perusahaan

Merekap laporan keuangan dan mengolahnya menjadi rasio-rasio keuangan merupakan analisis dari sisi kuantitatif perusahaan, namun sisi kuantitatif perlu untuk dilengkapi dari sisi kualitatif. Kita bisa mempelajari sisi kualitatif perusahaan dari berbagai sumber seperti laporan tahunan, presentasi public expose beserta laporannya dan survey lapangan.

Baca laporan tahunan dengan seksama

Laporan tahunan merupakan wadah tempat curhat dari manajemen direksi perusahaan. Perhatikan kata-kata yang digunakan dengan seksama, apakah ucapan manajemen cukup inline dengan data kuantitatif yang sudah kita olah sebelumnya. Biasanya manajemen akan menerangkan berbagai pencapaian dan juga tantangan yang dihadapi oleh perusahaan.

Selain itu, laporan tahunan juga dapat membantu kita untuk mengidentifikasi risiko-risiko yang mungkin saja dihadapi oleh perusahaan. Kami menyarankan investor untuk mengukur dampaknya bila risiko tersebut sewaktu-waktu terjadi.

Masih banyak lagi informasi kualitatif yang bisa dipelajari dengan membaca laporan tahunan, misalnya seperti susunan manajemen beserta latar belakangnya, sebagai seorang investor tentu kita perlu mengenal mitra manajemen dengan baik.

Perhatikan tanya jawab pada laporan Public Expose

Setiap tahunnya, perusahaan publik akan menyelenggarakan public expose (pubex) sebagai bentuk kewajiban mereka untuk mengabarkan kondisi perusahaan kepada publik. Kegiatan pubex akan didahului dengan company presentation yang kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Nantinya, perusahaan akan menerbitkan laporan pubex yang bisa kita akses melalui website idx yang sebelumnya sudah kami sebutkan di atas.

Perhatikan pertanyaan yang disampaikan oleh peserta dan bagaimana jawaban dari para direksi, kita bisa menilai kepuasan atas jawaban dari direksi terhadap pertanyaan peserta. Biasanya, tanya jawab yang terjadi akan membuka  informasi baru yang sebelumnya mungkin tidak diterangkan pada laporan tahunan dan laporan keuangan.

Survei lapangan

Investor dapat melakukan survei lapangan bila perlu. Namun, bukan artinya kita perlu untuk pergi menuju kantor ataupun pabrik dari perusahaan yang kita analisis. Kita bisa mulai dengan bertanya-tanya pendapat kepada pemain yang ada di dalam satu industrinya. Misalnya, perusahaan yang sedang kita analisis adalah perusahaan produsen keramik. Kita bisa mulai dengan pergi ke toko-toko material terdekat untuk bertanya-tanya tentang harga dan seberapa laku produk tersebut menurut pemilik toko.

F. Kombinasikan Data Kuantitatif dan Kualitatif Menjadi Satu Alur Cerita

Jika kita sudah melakukan hal-hal di atas, maka cobalah untuk membuat analisis dalam satu alur cerita dari sisi kuantitatif dan kualitatif. Hal ini akan membantu kita untuk membangun keyakinan (conviction) terhadap perusahaan yang ingin kita investasikan, masukkanlah kehebatan dan kekurangan perusahaan misalnya seperti saham ini termasuk ke dalam compounding machine dan juga memiliki moat yang dapat melindungi perusahaan dalam jangka panjang.

Masukkan juga berbagai argumen yang membuat kita yakin untuk berinvestasi beserta keraguannya, jika kita sudah dapat merinci hal-hal tersebut, maka kita sudah siap untuk melakukan estimasi valuasi berdasarkan conviction yang kita bangun. Jika hasil akhirnya cukup memuaskan dan harga sahamnya berada di angka yang kita anggap cukup murah, bisa jadi ini adalah pertanda kita telah siap untuk menjadi investor seutuhnya.

4. Buka Rekening Saham

Setelah memiliki konsep investasi yang matang dan mampu untuk menganalisis perusahaan, sekarang saatnya untuk benar-benar menjadi pemegang saham. Tentu hal yang harus dilakukan pada saat ini adalah mendaftarkan diri menjadi nasabah dari salah satu perusahaan sekuritas saham.

Tidak ada satu panduan pasti untuk memilih sekuritas mana yang bisa kita gunakan, pada dasarnya semua sekuritas memiliki fungsi yang sama yaitu menghubungkan nasabah dengan bursa.

Tetapi menurut kami terdapat satu hal yang perlu diperhatikan yaitu pastikan sekuritas yang ingin digunakan terdaftar sebagai anggota bursa, pada dasarnya perusahaan sekuritas sebagai perantara pedagang efek harus memperoleh izin usaha dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan mempunyai hak untuk menggunakan sistem dan sarana Bursa Efek sesuai dengan peraturan Bursa Efek.

Pada saat ini banyak aplikasi-aplikasi di app store yang mengaku seolah sebagai broker saham, maka dari itu jangan sampai kita tertipu dengan iklan-iklan yang misleading dan malah terjebak di dalam aplikasi judi online.

Jika sudah mendaftar sebagai nasabah, investor akan menerima Rekening Dana Nasabah (RDN). Pastikan untuk mencatat nomor rekening RDN yang biasanya dikirimkan melalui email untuk melakukan deposit dana dengan cara transfer untuk melakukan transaksi di bursa. Pelajari dengan baik cara kerja dari aplikasi sekuritas yang kita gunakan, coba saja untuk melakukan deposit dan withdraw, pelajari fitur seperti stock screener dan pahami susunan order book untuk melakukan pembelian saham.

Order Book

Sebagai contoh, gambar diatas adalah cuplikan order book dari saham PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM). Jika merujuk gambar di atas, artinya harga saham TLKM di pasar saat ini adalah Rp3.460/lembar. Jika Investor ingin melakukan pembelian pada saat ini, maka ia harus membelinya dengan harga Rp3.460/lembar dan jika ingin melakukan penjualan maka ia harus menjualnya di harga Rp3.450/lembar.

Cuplikan order book di atas adalah gambaran tentang penawaran dan permintaan atas saham, investor hanya perlu untuk memahami mekanisme bagaimana cara menggunakannya. Kami menyarankan untuk tidak terlalu berfokus dengan angka-angkanya yang selalu berubah dari waktu ke waktu. Pastikan saja harga beli yang kita dapatkan sesuai dengan harga yang kita inginkan berdasarkan hasil analisis sebelumnya.

5. Mulai Beli Saham Pertamamu!

Sebagai investor pemula, mungkin akan timbul rasa “deg-degan” (cemas) untuk menekan tombol buy. But, don’t worry! Menurut kami itu adalah hal yang wajar, mungkin jika dianaolgikan rasanya seperti pertama kali berenang. Sebagai manusia yang biasa hidup di darat, tentu akan merasa nervous ketika menceburkan diri ke ekosistem air yang secara natural bukanlah habitatnya.

Dalam konteks investasi saham, kita juga merasakan hal yang sama. Mungkin kita sudah terbiasa untuk menyisihkan sejumlah pendapatan yang kita kumpulkan dengan susah payah sebagai tabungan. Namun, kini kita memiliki tujuan untuk berinvestasi saham, sehingga kita akan mengubah kebiasaan “alokasi uang” yang tidak hanya disimpan sebagai tabungan tetapi juga sebagai dana untuk melakukan pembelian saham.

Maka dari itu, sebagai permulaan cicipilah terlebih dahulu”. Seperti manusia yang membutuhkan kolam cetek untuk belajar berenang, mulailah membeli saham dengan nominal dana yang kecil. Hal ini akan membantu kita untuk mengenal lebih dalam tentang reaksi kita secara emosi dan psikologi terhadap kenaikan dan penurunan nilai saham yang sudah kita miliki. Jangan sampai perasaan greed mendahului kita. Jika terburu-buru untuk berenang di kolam yang dalam, besar kemungkinan kita akan tenggelam.

Kemudian, kami menyarankan agar rekan-rekan untuk mencoba buy and hold selama 6 bulan hingga 1 tahun atas saham pertama yang dibeli. Melalui cara ini, kita akan memiliki kesempatan untuk merefleksikan benar atau salahnya analisis yang sudah kita buat dengan laporan keuangan kuartalan dan laporan keuangan tahunan yang diterbitkan oleh perusahaan.

Mari buka kembali hasil analisis kita, bandingkan apakah angka-angka yang dilaporkan oleh perusahaan sesuai dengan ekspektasi yang kita tuangkan dalam analisis tersebut. Jika perkembangan bisnisnya baik dan sesuai dengan harapan, tentu hal ini menjadi pertanda baik agar kita terus mempertahankan kepemilikan sahamnya atau bahkan menambah porsi kepemilikan bila harganya masih relatif murah.

Namun, jika perkembangan bisnisnya tidak sesuai harapan. Maka jangan ragu untuk mengakui kesalahan dan segera menjual sahamnnya dalam keadaan apapun (floating profit atau floating loss). Buat apa hold lama-lama saham perusahaan yang tidak lagi sesuai dengan harapan kita? Investor harus sadar bahwa mereka memiliki aset berharga lainnya yaitu waktu, jadi jangan habiskan waktu kepada saham yang tidak dapat memberikan tambahan value kepada investornya. Lebih baik segera menjual dan mencari saham pengganti.

6. Pelajari Kesalahan-Kesalahan Umum Seorang Investor

Pada dasarnya, siapapun dapat melakukan kesalahan di pasar saham. Warren Buffet, seorang investor legendaris saja masih melakukan kesalahan. Coba saja sesekali mencari “Warren Buffet mistakes” di search engine Google, kita akan menemukan daftar panjang kesalahan yang pernah Buffet lakukan.

Jika seorang Warren Buffet saja masih melakukan kesalahan, bagaimana kita yang posisinya hanya sebagai investor retail? Tentu kita sangat mungkin untuk melakukan kesalahan, namun jangan jadikan pertanyaan tersebut menjadi alasan kita untuk berkecil hati. Hal yang terpenting adalah jadikan kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan sebagai pelajaran untuk memperbaiki keputusan investasi di kemudian hari.

Mempelajari kesalahan juga tidak hanya bersumber dari kesalahan yang dilakukan oleh diri sendiri, kita sangat boleh untuk belajar dari orang lain yang sudah pernah melakukannya. Berikut, kami jabarkan kesalahan-kesalahan umum yang dilakukan oleh investor dan juga kesalaahan yang pernah penulis lakukan.

Bias Terhadap Nama Baik Direksi

“There is man behind number”

Sandiaga Uno

Dahulu, penulis cukup gemar mengikuti podcast untuk mendengarkan berbagai opini dari tokoh-tokoh yang berpengaruh di Indonesia. Penulis cukup terinspirasi dengan kalimat “There is man behind number” yang sering kali digunakan oleh Bapak Sandiaga Uno. Tidak ada masalah dengan kalimat tersebut, hanya saja karena terlalu terinspirasi, hal ini mempengaruhi cara pandang penulis untuk melakukan analisis perusahaan

Pada awal tahun 2020, pandemi COVID-19 baru saja masuk ke Indonesia. Banyak investor yang panik, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun begitu tajam. Penulis yang kala itu sudah mengenal pasar saham ingin memanfaatkan momen tersebut untuk membeli saham dengan “valuasi yang murah”.

“Buy When There’s Blood In The Streets”

Warren Buffet

Menjadi kontrarian, memang merupakan salah satu cara untuk mendapatkan perusahaan bagus di harga murah dikala pasar sedang panik. Hanya saja, penulis pada saat itu memilih untuk melakukan pembelian saham perusahaan (yang tidak bisa kami sebutkan nama perusahaannya) hanya berdasarkan nama baik manajemen tanpa memperhitungkan variable bisnisnya secara keseluruhan.

Setelah hold saham tersebut dalam waktu 3-4 bulan, penulis baru menyadari bahwa pembelian saham ini adalah keputusan yang konyol. Pada saat itu, penulis baru mulai serius menganalisis setelah melakukan pembelian. Penulis mendapati bahwa perusahaan ritel yang mnejadi mitra distributor perseroan banyak menutup cabang dan juga mengalami kebangkrutan. Hal ini sangat mempengaruhi kinerja penjualan perseoran secara signifikan.

Mengetahui hal tersebut, penulis tidak dapat tidur dengan tenang. Belum lagi penurunan kinerjanya diiringi dengan penurunan harga sahamnya. Merasa sangat terganggu dengan hal ini akhirnya penulis memilih untuk menjual seluruh porsi kepemilikan walaupun dalam kondisi rugi. Walaupun begitu, ternyata merealisasikan kerugian merupakan keputusan yang tepat. Berdasarkan laporan keuangan tahun 2021, kinerja perusahaan tersebut bahkan lebih buruk dari tahun 2020.

Overconfidence Terhadap Prospek Bisnis Perusahaan

Salah satu kesalahan investor yang perlu dihindari adalah overconfidence dengan prospek bisnisnya, hal ini mudah terjadi bila kita hanya menganalisis satu perusahaan tanpa menganalisis perusahaan kompetitor yang memiliki produk serupa.

Ingat saja kiasan ini, “ada gula ada semut!” Ketika bisnis tersebut begitu manis (menguntungkan) pasti akan berdatangan gerombolan semut-semut lainnya yang siap untuk turut mengeksploitasi gula di lokasi yang sama.

Biasakan untuk membandingkan penjualan yang terjadi pada perusahaan yang bergerak di industri yang sama, begitu juga dengan tingkat efisiensi perusahaan untuk menciptakan laba. Perhatikan juga diferensiasi produk yang dimiliki oleh masing-masing perusahaan, jika tidak memiliki perbedaan yang signifikan maka pastikan perusahaan yang perusahaan yang sahamnya akan kita beli memiliki keunggulan kompetitif yang sulit ditiru oleh kompetitornya.

Hal ini akan mempengaruhi estimasi valuasi yang dibayar oleh investor. Jika investor melakukan kesalahan ini, bisa jadi investor tersebut akan rela untuk membayar saham yang sebenarnya memiliki prospek bisnis yang biasa saja (medioker) dengan harga yang tinggi.

Menjual Saham Bagus Terlalu Cepat

Tidak hanya kesalahan untuk memilih perusahaan yang tidak sesuai dengan ekspektasi, investor juga dapat melakukan kesalahan ketika sudah memiliki saham yang bagus dengan harga murah dalam bentuk realisasi keuntungan yang terlalu cepat.

Hal ini bisa saja terjadi kepada investor yang cepat berpuas hati dengan pencapaiannya tanpa menyadari potensi pertumbuhan perusahaan dalam jangka panjang. Sebagai contoh, kita akan menggunakan saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sebagai ilustrasi.

BBCA selama 17 tahun ini telah memberikan return sebesar 22 bagger dengan CAGR sebesar 21% kepada para pemegang saham yang membelinya di tahun 2005 dengan harga Rp345 per lembar. Artinya bagi investor yang pada saat itu membeli BBCA dengan nominal sekitar Rp50 juta pada saat ini nilai sahamnya sudah bertumbuh menjadi sekitar Rp1 miliar, sebuah keuntungan yang sangat besar.

Harga Saham BBCA

Namun, mari kita coba untuk masuk ke lorong waktu ke awal tahun 2008. Pada saat itu harga BBCA berada di angka Rp720 per lembar, BBCA telah memberikan return sebesar 2 bagger dengan CAGR sebesar 28% kepada investor yang sudah kita sebutkan di paragraph sebelumnya. Artinya di tahun 2008, aset saham BBCA senilai Rp50 juta milik investor tersebut sudah bertumbuh menjadi Rp100 juta. It is a decent return!

Tentu return yang diberikan BBCA pada tahun 2008 bukan angka yang kecil. Namun, jika investor tersebut memilih untuk merealisasikannya di tahun 2008, maka sebenarnya ia akan kehilangan kesempatan untuk melipatgandakan kekayaanya sebanyak 20 kali. Meskipun untung, namun sebenarnya opportunity cost yang dibayar sangatlah besar.

Tentu kesalahan-kesalahan investor tidak hanya terbatas dengan tiga contoh kesalahan yang kami paparkan di atas. Masih banyak contoh-contoh kesalahan investor yang tidak bisa kami masukkan ke dalam artikel ini. Kami hanya berpesan agar rekan-rekan yang memang ingin serius untuk berinvestasi saham agar terus mengevaluasi kesalahan yang sangat mungkin terjadi di masa depan.

Investor harus menyadari bahwa investasi saham merupakan sebuah komitmen jangka panjang. Hasil dari investasi yang kita lakukan pada saat ini, bisa jadi baru memberikan hasil yang optimal dalam waktu lebih dari 10 tahun ke depan.

Seiring dengan perjalanannya, investor akan menyaksikan nilai sahamnya yang mungkin saja tidak kemana-mana atau bahkan turun dalam jangka panjang. Maka dari itu, seorang investor perlu berevolusi dari waktu ke waktu. Investor membutuhkan pemikiran dengan wawasan yang luas agar dapat melakukan evaluasi secara berkala atas berbagai keputusan dan kesalahan yang dilakukan.

”Those who keep learning, will keep rising in life”

Charlie Munger

Jika seseorang memang serius untuk menjadi investor saham, kami menyarankan agar kita semua tidak pernah berhenti belajar. Sering-seringlah untuk membaca, bongkar semua data yang relevan, dan berlatihlah untuk menganalisis saham secara utuh. Bila rekan-rekan membutuhkan referensi second opinion yang dapat diandalkan, kami telah memiliki lebih dari 100 artikel INSIGHT yang bisa rekan-rekan manfaatkan sebagai acuan.

Dear investors, please take it easy and keep grinding!


DISCLAIMER:

Artikel di atas dibuat semata untuk tujuan penyediaan referensi dan edukasi, bukan rekomendasi untuk keputusan keuangan dan investasi tertentu. Setiap pihak bertanggung jawab penuh atas keputusan keuangan dan investasi yang dibuatnya sendiri.

Artikel dibuat berdasarkan sumber-sumber yang dapat dipertanggungjawabkan dan dimuat sebagaimana adanya.

Adi Nugroho

Investor aktif sejak 2018. Memiliki rasa penasaran yang tinggi untuk menemukan benang merah di dalam kompleksitas cerita yang ada. Sangat tertarik untuk menganalisis sektor bisnis perdagangan retail dan media.

Bagikan dan Diskusikan

Telegram
WhatsApp
Twitter
Facebook
0 0 votes
Rating Analisis
Subscribe
Notify of
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x

Rekap Laporan Keuangan Sudah Terkirim!

Silahkan cek email kamu!