Bisnis yang dijalankan PBID tidaklah mudah. Kemasan plastik yang menjadi produk utama PBID adalah branded commodity, terlebih lagi harga bahan bakunya sangat volatil.
Tetapi, di tangan manajemen yang memiliki kapabilitas dan pengalaman lebih dari 40 tahun, PBID berhasil menjadi raja kemasan plastik di Indonesia.
Consumption per Capita
Selain itu, bisnis PBID masih memiliki ruang yang luas untuk bertumbuh. Konsumsi plastik per kapita di Indonesia masih sangat rendah jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga.
Tahun 2015, konsumsi plastik per kapita Malaysia, Thailand dan Singapura mencapai 2x lipat Indonesia. Eropa Barat yang gencar menyuarakan ESG pun konsumsi plastik per kapitanya mencapai 6x lipat Indonesia.

Berdasarkan INAPLAS (Asosiasi Industri Plastik Indonesia), konsumsi plastik Indonesia tahun 2019 hanya 20 kg/kapita, jauh di bawah negara Asia lainnya seperti Vietnam 42 kg/kapita, Jepang 69 kg/kapita dan Korea 141 kg/kapita.
Meskipun kami tidak mendapatkan data tahun terbaru, tetapi estimasi kami kondisi tersebut masih belum berubah, konsumsi plastik per kapita Indonesia masih di bawah negara-negara Asia lainnya.
Let’s say konsumsi plastik per kapita Indonesia meningkat 1.5x lipat, maka secara hitungan kasar, penjualan kemasan plastik PBID juga akan meningkat 1.5x lipat.
Market Share
Angka potensi peningkatan penjualan tersebut masih bisa meningkat jika PBID berhasil merebut market share dari pesaing-pesaing lokal di setiap daerah. Ingat, PBID memiliki keunggulan dari sisi skala dan modal.
Jika teman-teman lihat, PBID mulai gencar menambah staf sales & marketing di berbagai provinsi, terutama Jawa Timur yang menjadi fokus utama karena memiliki jumlah penduduk terbanyak ke-2.

Profit Margin Expansion
Peningkatan konsumsi per kapita dan market share bukan hanya meningkatkan volume dan nilai penjualan, tetapi juga profit margin PBID.
Utilisasi pabrik PBID di tahun 2022 berada di angka ±68%, lebih rendah dibanding tahun 2017 dengan utilisasi 90%.

Utilisasi tersebut menurun setelah PBID gencar meningkatkan kapasitas produksinya dengan dana hasil IPO. Meskipun tertinggal, tetapi realisasi produksi PBID masih terus meningkat secara perlahan.
Demand meningkat ➡️ produksi dan utilisasi meningkat ➡️ cost produksi dan operasional per unit penjualan menurun ➡️ profit margin expansion!
Plastik > Bioplastik
Selama proses tersebut, kami juga yakin produk kemasan plastik di Indonesia belum akan tergantikan dalam waktu dekat.
FYI, pengembangan produk plastik ramah lingkungan (bioplastik) sudah dilakukan sejak tahun 1900-an. Hampir 100 tahun, bioplastik masih belum bisa menggantikan plastik biasa.
Faktor utamanya adalah harga bioplastik yang berkali-kali lipat lebih mahal. Contohnya di Indonesia adalah Ecoplas, bioplastik yang terbuat dari pati singkong yang diproduksi oleh kerja sama PT Kharisma Plastik Indo dan PT Harapan Interaksi Swadaya (Greenhope).
Harga kantong kresek Ecoplas ukuran 21×35 cm sekitar IDR 50 ribu per 50 pieces (IDR 1,000/piece). Sedangkan harga kantong kresek Sparta – merek kemasan plastik HD PBID yang paling mahal – ukuran 24×48 cm hanya IDR 15 ribu per 125 pieces (IDR 120/piece).
Terlebih lagi, bioplastik Ecoplas tidak tahan panas sehingga tidak bisa digunakan untuk membungkus barang-barang panas seperti kuah makanan.
8x MORE EXPENSIVE AND LESS FUNCTIONAL!
• • •
Meskipun dengan semua prospek yang ada, PBID juga memiliki beberapa risiko yang perlu kita pertimbangkan.
Debt
Pertama, kita akan bahas dari sisi debt PBID.
Yuk Lanjut Baca
INVESTABOOK Insight
Langganan & Akses 250+ Insight Lainnya
Jika sudah berlangganan, kamu bisa login di sini!