Buku Wajib Investor Indonesia

Berinvestasi bukan cuma soal memahami bisnis, tetapi juga memahami orang yang mengendalikan dan mengoperasikannya.

“Buku apa yang wajib dibaca oleh investor indonesia?”

Pertanyaan di atas bisa punya 3 makna.

  1. Buku apa yang wajib dibaca oleh investor yang berasal dari Indonesia?
  2. Buku apa yang wajib dibaca oleh investor yang hanya bisa bahasa Indonesia?
  3. Buku apa yang wajib dibaca oleh investor yang ingin berinvestasi di Indonesia?

Pada pertanyaan pertama, jawabannya tidak akan jauh berbeda dengan buku wajib yang akan kami rekomendasikan kepada investor di seluruh dunia. Investasi adalah tema yang universal dan berlaku untuk semua investor dengan beragam latar belakang.

Jika harus memilih satu, saya akan menyebut buku 5 Rules for Successful Stock Investing oleh Pat Dorsey sebagai buku wajib terutama para investor pemula. Dengan tetap mengambil intisari ajaran dari Benjamin Graham soal nilai intrinsik, mr. market, dan margin of safety, Pat Dorsey juga memberi penekanan lebih lanjut pada pentingnya analisis economic moat atau keunggulan kompetitif bisnis yang dilengkapi dengan pembahasan karakteristik sejumlah industri utama.

Pada pertanyaan kedua, sayang sekali, hingga saat ini, kami belum menemukan buku berbahasa Indonesia yang bisa sepenuhnya menggantikan buku 5 Rules for Successful Stock Investing, terutama dari segi kelengkapan dan kedalaman pembahasannya. Buku-buku terkait investasi dari penulis Indonesia biasanya hanya fokus pada salah satu topik pembahasan dalam investasi dan kalaupun berusaha untuk membahas secara menyeluruh, pembahasannya biasanya kurang mendalam.

Dengan hadirnya berbagai format penyajian informasi saat ini, standard yang harus dipenuhi oleh para penulis buku non-fiksi harusnya jadi semakin tingggi. Buat apa membayar dan menyimpan sekumpulan kertas yang hanya berisi kliping artikel yang sebenar bisa diakses secara digital?

Menurut saya, informasi yang disajikan dalam format buku harus menyajikan autentisitas cara pandang dan kedalaman pembahasan.

Jadi, jika suatu saat nanti saya dan tim INVESTABOOK menerbitkan buku, kalian bisa berekspektasi bahwa buku tersebut akan memberi nilai tambah pada perpustakaan pribadi kalian.

Nah, tulisan ini akan menjawab pertanyaan ketiga. Jika diparafrase pada esensi intinya, pertanyaannya akan menjadi, “pemahaman spesifik apa yang diperlukan oleh investor yang ingin berinvestasi di Indonesia?

Jawabannya adalah sejarah kapitalisme Indonesia dan grup konglomerasi yang dikendalikan oleh sejumlah keluarga.

Seperti yang diungkapkan oleh Mark Twain, sejarah memang tidak berulang, tetapi mereka memiliki pola yang bisa membantu kita memberi perspektif terhadap apa yang terjadi saat ini dan menjadi navigasi untuk pengambilan keputusan investasi.

Untuk kebutuhan pemahaman tersebut, menurut kami tidak akan buku yang lebih baik dibanding buku Liem Sioe Liong dan Salim Group oleh Richard Borsuk dan Nancy Chng.

Di buku tersebut, penulis menceritakan sejarah kelahiran, perkembangan, dan berbagai dinamika Grup Salim yang merupakan konglomerasi bisnis nomor 1 di masa orde baru hingga periode awal 2010an.

Kira-kira pelajaran apa saja yang bisa kita petik dari buku tersebut sebagai investor individu yang ingin melipatgandakan kekayaan kita di pasar saham Indonesia?

1. (Hampir) Semua Kapitalis Indonesia Tumbuh di “Sekolah Orde Baru”

Jika diibaratkan seperti sebuah kawasan, di masa orde baru, hanya ada satu sekolah yang tersedia untuk menjadi kapitalis di Indonesia: berkongsi dengan pejabat orde baru.

Dengan kuasa dan kontrol yang nyaris absolut, Soeharto dan pejabat orde baru lainnya memegang kunci penting untuk hampir semua jenis usaha melalui instrumen lisensi impor dan izin usaha secara umum.

Jadi, meski terlihat kaya raya, posisi keluarga Salim dan konglomerat alumni orde baru lainnya sebenarnya tetap subordinat di masa orde baru. Kendali atas perkongsian yang terjalin tetap berada di tangan pejabat orde baru.

Karena itu, mereka hanya bisa bebas mengakumulasikan kekayaan selama mereka tetap patuh pada perintah Soeharto dan pejabat orde baru lainnya.

Di sisi lain, pemerintah orde baru juga membutuhkan tangan para pengusaha keturunan Tionghoa untuk menggerakkan roda ekonomi di Indonesia (termasuk roda ekonomi mereka sendiri) tanpa memberi ancaman secara politik pada pemerintah.

“Dalam periode Orde Baru Soeharto, setiap jenderal yang makmur pasti punya setidak-tidaknya satu cukong sebagai mitranya. Para perwira tinggi membutuhkan ketajaman bisnis pengusaha Tionghoa untuk mendapatkan dana, imbalannya adalah perlindungan dan privilese.”

Liem Sioe Liong dan Salim Group, hlm. 63

Karena itu, perbedaan pencapaian grup konglomerasi di “sekolah orde baru” bukan cuma didorong oleh perbedaan kemampuan dalam menjalankan bisnis, tetapi juga oleh tingkat kedekatannya dengan kekuasaan.

Beruntung bagi Om Liem yang telah menjadi pemasok Divisi Diponegoro TNI yang dulu dipimpin oleh Soeharto serta punya reputasi yang baik di kalangan sesama Hokchia, Om Liem adalah kandidat ideal untuk menjadi cukong dari pejabat nomor 1 orde baru: Soeharto.

Menyebut grup Salim sebagai keluarga Salim mungkin tepat untuk konteks saat ini, tetapi bukan hal itu yang terjadi di masa awal pendirian grup Salim.

“Salim Group, pada dasarnya adalah ciptaan Soeharto.”

Liem Sioe Liong dan Salim Group, hlm. 98

Soeharto lah yang menjodohkan Om Liem dengan sepupunya Sudwikatmono dan Djuhar Sutanto yang sejak lama menjadi cukong Soeharto. Kemudian Djuhar mengajak Ibrahim Risjad, rekan pribuminya untuk ikut bergabung. Geng empat serangkai inilah yang di masa orde baru dikenal sebagai Grup Salim.

Jadi, singkatnya, Grup Salim adalah joint venture antara keluarga Soeharto dan cukong-cukong utamanya. Meskipun belakangan masing-masing anggota empat serangkai punya bisnis sendiri seperti Sudwikatmono dengan grup Indika-nya, tetapi perkongsian Grup Salim tetap bertahan setidaknya hingga krisis ekonomi 1998.

Hal ini jadi penting karena tanpa perkongsian secara langsung dengan keluarga Soeharto, sulit bagi Grup Salim bisa menjadi grup konglomerasi terbesar di Indonesia yang pada tahun 1996 diperkirakan menghasilkan pendapatan Rp 53 triliun.

Sebagai perbandingan, perusahaan di bawah grup Astra dan Sinar Mas yang berada di peringkat kedua dan ketiga pada tahun tersebut hanya menghasilkan Rp 20an triliun.

Sebagai grup konglomerasi yang paling berprestasi di masa orde baru, ditambah dengan karakter Om Liem yang mudah bergaul, hampir semua grup konglomerasi besar di Indonesia pernah punya hubungan dengannya, entah sebatas pertemanan, transaksi bisnis, hingga perkongsian usaha.

Grup Astra (William Soerjadjaja)

Grup Astra jadi salah satu grup yang disukai oleh investor asing, sejak masih dalam pengendalian William Soerjadjaja hingga saat ini di bawah konglomerasi Jardine Cycle & Carriage. Investor asing pun sangat menunggu IPO Astra di masa awal kebangkitan Bursa Efek Jakarta pada akhir tahun 1980an dan harus kecewa ketika yang duluan IPO justru Indocement, bisnis semen Grup Salim.

Namun, meski memiliki citra publik lebih baik, “sebagiannya karena dia (William Soerjadjaja) lahir di Indonesia, dipandang membaur dengan baik, dan tidak terkait erat dengan Soeharto,” William Soerjadjaja juga menjaga hubungan baik dengan Ibnu Sutowo, mantan orang nomor 1 di Pertamina yang dulu dianggap jadi orang berkuasa nomor 2 di Indonesia karena kontribusinya yang begitu besar pada kas negara.

“Ketika bisnisnya sedang bangkit, Wiliam mempunyai hubungan penting dengan pemimpin Pertamina Ibnu Sutowo, tetapi tidak terkait langsung dengan Soeharto.”

Liem Sioe Liong dan Salim Group, hlm. 199

Ketika belum banyak masyarakat yang punya kemampuan untuk membeli kendaraan, kira-kira siapa target pasar yang cocok untuk bisnis impor dan perakitan otomotif Astra? Tentu pemerintah dan BUMN. Di tengah oil boom, Pertamina adalah BUMN dengan jumlah uang paling banyak dan berarti juga potensi pendapatan terbesar bagi bisnis otomotif dan bisnis-bisnis Astra lainnya.

Satu hal lagi yang jarang dibahas. Grup Salim sebenarnya pernah menjadi pemilik saham minoritas Astra ketika William terpaksa harus menjual sebagian besar sahamnya di Astra untuk memberi suntikan modal ke Bank Summa akibat kecerobohan anak sulungnya, Edward.

Meski memiliki Indomobil yang jadi pesaing utama Astra, Grup Salim melalui Bogasari, tetap ikut terlibat dalam sebuah konsorsium yang dipimpin oleh Prajogo Pangestu (pemimpin Barito Pacific yang dulu besar dalam bisnis kayu) dan sejumlah pengusaha keturunan Tionghoa lain yang aktif dalam Yayasan Prasetya Mulya seperti Eka Tjipta Widjaja (Grup Sinar Mas) dan Mochtar Riady (Grup Lippo).

Grup Sinar Mas (Eka Tjipta Widjaja)

Untuk mendorong integrasi vertikal di bisnis mi instannya, pada awal 1980-an, Grup Salim kemudian ekspansi ke bisnis budidaya dan penyulingan kelapa sawit menjadi minyak goreng. Seperti playbook yang selama ini digunakan untuk memanfaatkan peluang bisnis baru, Grup Salim bermita dengan Sukanto Tanoto dari Grup Raja Garuda Mas (RGM) yang kini menjadi Royal Golden Eagle (RGE) dan Eka Tjipta Widjaja dari Grup Sinar Mas.

Namun, karena RGN bersaing secara langsung dengan Sinar Mas di bisnis pulp & paper, perkongsian melalui Sinar Mas Inti Perkasa (SMIP) akhirnya hanya melibatkan Grup Salim dan Grup Sinar Mas.

Ada banyak versi terkait alasan pendirian SMIP. Namun, salah satu versi yang paling dipercaya adalah Sinar Mas butuh moat dari Grup Salim. Ya! hubungan khusus dengan Soeharto adalah moat terbesar seluruh bisnis Grup Salim di masa orde baru.

“Eka punya teman di kalangan petinggi militer dan pejabat tinggi pemerintah, tetapi tidak punya akses langsung terhadap Soeharto, dan mungkin saja dia khawatir jika ekspansi Liem di kelapa sawit bisa merugikan Sinar Mas. Tampaknya ini selaras dengan komentar Eka tentang persekutuan mereka yang menjadikan SMIP ‘aman dan damai’.”

Liem Sioe Liong dan Salim Group, hlm. 308

Namun, perpindahan pengendalian Grup Salim dari Om Liem yang bekerja dengan asas kepercayaan ke Anthony yang lebih percaya pada kontrol serta meninggalnya Rudy Maeloa, menantu Eka yang selama ini jadi jembatan penghubung komunikasi dengan Grup Salim, membuat Grup Salim dan Grup Sinar Mas akhirnya harus pecah kongsi.

Aset-aset SMIP pun dibagi dua. Grup Salim mendapatkan merek minyak goreng Bimoli, margarin Simas, dan sejumlah pabrik minyak goreng serta lahan perkebunan sawit. Grup Sinar Mas mendapatkan merek minyak goreng Filma dan Kunci Mas, sejumlah pabrik minyak goreng dan lahan perkebunan sawit, serta cash senilai 20 miliar rupiah.

Grup Lippo (Mochtar Riady)

Sebelum menjadi pemimpin Grup Lippo, Mochtar Riady adalah seorang bankir yang dijuli “Dokter Perbankan” karena reputasinya yang dikenal mampu membenahi bank yang sebelumnya sakit.

Namun, karena perbedaan cara pandang dengan ipar tertuanya, Mu’min Ali Gunawan (pemimpin Grup Panin), Mochtar harus mencari kendaraan baru selain Bank Panin yang pada tahun 1970an merupakan bank swasta terbesar di Indonesia.

Pucuk dicinta ulam pun tiba. Grup Salim yang memang telah memiliki sejumlah bank, termasuk BCA, butuh seorang bankir handal untuk memperbesar aset perbankannya. Seperti playbook yang juga dilakukan oleh banyak grup konglomerasi lain di Indonesia, memiliki bank adalah cara paling mudah untuk mengumpulkan dana masyarakat dan menggunakannya untuk membiayai kebutuhan ekspansi pihak berelasi atau perusahaan lain di internal grup.

Maka terjadilah suatu perkongsian antara Grup Salim dan Mochtar Riady yang menurut penulis buku ini merupakan “perkawinan paling sukses dari segi apapun”. Mochthar mendapat 17,5% saham BCA dan mendapat kebebasan penuh dari Grup Salim untuk mengembangkan BCA sesuai dengan visi dan idealismenya.

Suatu ketika, Mochtar pernah ditanya oleh Om Liem soal targetnya di BCA. Mochthar mengatakan bahwa dirinya bisa menjadikan BCA sebagai bank swasta terbesar di Indonesia dalam 2,5 tahun. Om Liem heran dengan target tersebut karena BCA saat itu hanya punya 1 kantor dan aset USD 1 juta, sedangkan Bank Panin memiliki 60 cabang dan aset USD 200 juta.

Begini jawaban Mochtar.

“Anda bicara tentang kuantitas. Saya bicara kualitas. Itu bedanya. Saya punya akses pada tiga kunci emas (Anda). Panin tidak punya (itu). Kunci emas pertama adalah Liem Sioe Liong untuk membuka pintu industri rokok kretek, dengan monopoli cengkih Anda. Banyak yang bergabung padanya. Saya akan memanfaatkan koneksi Liem Sioe Liong untuk menarik bisnis rokok. Kunci emas kedua adalah Liem Sioe Liong, untuk membuka pintu konsumen pabrik tepung melalui Bogasari. Mereka punya banyak konsumen. Kunci emas ketiga adalah Liem Sioe Liong, untuk membuka pintu konsumen semen dan bahan bangunan. Saya memanfaatkan Anda untuk membuka ketiga wilayah ini.”

Liem Sioe Liong dan Salim Group, hlm. 218

Kepercayaan besar dan kebebasan yang diberikan oleh Om Liem kepada Mochtar termasuk ketika Mochtar meminta izin untuk mengembangkan bank milik keluarganya sendiri, cikal bakal dari Grup Lippo yang sekarang kita kenal.

“Pak Mochtar, saya dengar Anda membeli sebuah bank. Dia menjawab, ‘ya, anak saya ingin bekerja …’ Dan saya katakan, ‘tidak masalah … Kita (mesti) mengawinkan bank dan tidak memecah-belahnya’.”

Liem Sioe Liong dan Salim Group, hlm. 233

Sayangnya, perkawinan yang membuat keluarga Salim mendapat 15% saham LippoBank tersebut tidak bertahan lama. Sejumlah pejabat di BCA mulai merasa terganggu dengan taktik agresif LippoBank yang dipimpin oleh anak dari Presiden Direktur mereka.

Rencana bedah jantung akhirnya bisa menjadi alasan perceraian baik-baik antara Grup Salim dan Grup Lippo. Mereka saling mengembalikan saham masing-masing dan Mochtar pun fokus sepenuhnya mengembangkan Grup Lippo.

Perceraian ini berlangsung baik-baik karena biar bagaimana pun, Mochtar telah menunaikan janjinya untuk menjadikan BCA sebagai bank swasta terbesar di Indonesia. Sebuah legacy yang tetap bertahan hingga saat ini meski BCA sudah berpindah kendali ke tangan grup Djarum (Hartono bersaudara).

CT Corp (Chairul Tanjung)

Kita sudah membahas grup Astra, Sinar Mas, dan Lippo yang bisa dibilang “seangkatan” dengan Grup Salim. Namun bukan cuma mereka, CT Corp yang dipimpin oleh Chairul Tanjung, “kapitalis baru” Indonesia yang relatif kurang dikenal sebelum reformasi, juga memiliki sejarah hubungan dengan Grup Salim.

Sebelum mengerucut menjadi dua kandidat, saat itu ada empat kandidat yang tertarik untuk membeli saham BCA yang diambil alih oleh BPPN (Badan Penyehatan Perbankan Nasional) sebagai bagian dari penyelesaian utang Grup Salim.

Standard Chartered Bank yang bermitra dengan Government of Singapore Investment Corp (GIC), Farallon yang bermitra dengan Grup Djarum, sebuah konsorsium Indonesia yang dipimpin koperasi produsen batik, dan Bank Mega yang menjadi kendaraan utama CT Corp sebelum berekspansi ke banyak sektor.

Meski akhirnya tidak berlanjut ke babak final, berbagai media terlanjur memberitakan bahwa Chairul Tanjung adalah proxy dari Anthony Salim yang ingin kembali memiliki BCA setelah diambil alih BPPN. Keduanya membantah isu tentang BCA, tetapi keduanya menyatakan bahwa mereka memang berteman dan bermitra.

“Chairul kembali menegaskan bahwa dirinya adalah mitra, bukan proksi, Anthony, dan mengatakan bahwa hubungan mereka berakar pada bantuan yang diberikan Bank Mega kepada BCA dan utang yang diberikan Bank Mega itu sekadar untuk Salim membeli pakaian.”

Liem Sioe Liong dan Salim Group, hlm. 431

Jadi, masuknya Grup Salim ke Bank Allo, bank digital CT Corp, bukanlah preseden pertama. Mereka adalah teman baik dan mitra sejak lama.

2. Grup Konglomerasi dan Transaksi Pihak Berelasi Mereka adalah Kenyataan yang Harus Diterima

Berinvestasi di Indonesia artinya kita harus menyadari bahwa kemungkinan besar perusahaan yang kita ikut miliki tersebut merupakan bagian dari grup konglomerasi yang lebih besar.

Dengan kesadaran tersebut, kita akan bisa lebih mudah memahami aksi korporasi yang sebenarnya sah, tetapi dari perspektif corporate governance akan terlihat aneh.

Jika perusahaan teknologi di pasar saham US suka menggunakan cash flow dari mature business-nya untuk membiayai bisnis baru yang punya potensi pertumbuhan besar seperti proyek metaverse Meta Platform atau bisnis cloud dan other bets Google, perusahaan di Indonesia juga melakukannya, tetapi di tingkat grup konglomerasi baik yang secara formal berbentuk holding company seperti Astra maupun yang dikelola dalam struktur kepemilikan yang lebih rumit seperti Grup Salim.

Jika kamu tahu bahwa Grup Salim pernah membuat Indocement mengakuisisi Indofood dan Bogasari pada tahun 1991, akuisisi jumbo Pinehill oleh ICBP jadi akan terlihat tidak terlalu aneh.

Setidaknya, Pinehill masih menjual produk yang sama dengan ICBP dan sebelum transaksi tersebut keduanya memang sudah menjalin kemitraan dalam hal perdagangan bumbu.

Tidak lama setelah memindahkan Indofood dan Bogasari ke Indocement, Grup Salim kembali melakukan kocok ulang aset dengan meng-IPO-kan Indofood dan sekali lagi memindahkan Bogasari dari Indocement ke Indofood.

“Salim mengembangkan semacam langkah-langkah korporat yang menjadi ciri khas kelompok tersebut dan membuat jengkel sementara analis. … Berbagai rencana disusun untuk sebuah pencatatan di bursa efek yang akan mengkonversi utang, menyediakan dana bagi akuisisi yang mengurangi pajak, dan meningkatkan profil Indofood yang tidak akan bisa dilakukan sebagai bagian dari Indocement.”

Liem Sioe Liong dan Salim Group, hlm. 316

Lewat buku ini, kita bisa belajar bahwa menilai sebuah transaksi pihak berelasi hanya dalam kerangka baik dan buruk tidak akan terlalu membantu.

Kita harus memahami dulu fungsi, signifikansi, dan kepentingan di balik sebuah transaksi pihak berelasi.

Kita harus paham mengapa sebuah perusahaan melakukan spin off dan IPO terhadap anak usahanya?

Kita juga harus paham apa perbedaan dari kombinasi bisnis berbentuk merger dan akusisi?

Apakah transaksi pihak berelasi tersebut memberi tekanan pada cash flow perusahaan seperti piutang usaha MYOR atau justru pinjaman moat seperti yang diberikan INDF ke ICBP?

Kalian harus ingat bahwa setiap investor adalah kapitalis yang berusaha memenangkan kepentingannya dengan sumber daya yang dimiliki.

Investor yang menjadi pemegang saham pengendali bisa sesuka hati mengatur ulang aset dan struktur kepemilikan perusahaannya.

Investor minoritas yang tidak terlihat (kepemilikan saham <5%) dengan dana besar bisa menggerakkan pasar dan menggiring retail trader pada perilaku tertentu (pump and dump scheme).

Lalu apa yang bisa kita lakukan sebagai investor minoritas dengan dana kecil?

Mengumpulkan semua informasi publik yang relevan dan penting, kemudian mengolahnya dengan kerangka analisis yang tepat untuk membuat keputusan yang rasional. Hanya itu.

Sama seperti status sebagai BUMN, status sebagai bagian dari konglomerasi besar juga bisa membuat value yang dihadirkan oleh sebuah perusahaan jadi berkurang.

Hanya dengan jadi pengumpul informasi dan analis yang tekun lah kita baru akan bisa punya kepercayaan diri untuk membuat estimasi, “segini loh value yang tersisa setelah digerus oleh pemegang saham pengendalinya.”

Perusahaan dengan banyak transaksi pihak berelasi memang memberi PR analisis yang lebih banyak. Namun, bisa jadi, bahkan setelah banyak didiskon, value yang tersisa untuk investor minoritas masih cukup besar dan sepadan.

Sebagai ilustrasi, perusahaan A memiliki ROE 20%. Jika tanpa transaksi pihak berelasi yang menggerus value, ROE-nya bisa mencapai 30%. Namun, perusahaan tersebut tetap 2x lipat lebih baik dari perusahaan tanpa pihak berelasi yang ROE-nya cuma 10%.

Namun, jika kita bisa menemukan perusahaan luar biasa yang masih punya potensi compounding dan dikelola oleh owner-operator yang kepentingannya align dengan kita, tentu itu opsi yang lebih baik.

3. Mengenali Pola Aksi Korporasi Grup Konglomerasi di Indonesia

“Buat apa sih investor belajar sejarah?”

Untuk mengenali pola yang bisa dijadikan kerangka untuk mengambil keputusan investasi yang selalu forward looking.

Sejarah akan membuat kita tidak mudah terbawa oleh gagasan “this time is different.”

Memangnya kalian baca laporan keuangan dan laporan tahunan itu bukan sejarah?

Sejarah kan! Karena itu berisi kinerja dan ulasan manajemen terhadap kinerja yang sudah terjadi di masa lalu.

Buku Liem Sioe Liong dan Salim Group ini memberi kita wawasan sejarah bukan cuma tentang perusahaan-perusahaan besar yang hingga hari ini mewarnai ekonomi Indonesia, tetapi juga orang-orang yang mengendalikan dan mengoperasikannya.

Buku inilah yang membatu saya melihat secara lebih kritis akuisisi Pinehill oleh ICBP yang sempat membuat heboh pada Mei 2020. Hampir semua analis hanya dampak akuisisi Pinehill untuk ICBP dan harga akuisisinya.

Tidak ada yang menggali lebih dalam, “sebenarnya apa sih kepentingan Grup Salim dalam transaksi tersebut?

Buku ini juga memberi saya wawasan tentang perbedaan karakter kepemimpinan yang bisa terjadi antar generasi di keluarga yang sama.

Gaya Om Liem yang lebih santai dan mudah memberi kepercayaan pada anggota keluarga dan mitra-mitranya, ternyata berbanding terbalik dengan Anthony yang lebih menginginkan kontrol.

Mochtar Riady yang sangat konservatif dan bahkan tidak segan memecat anaknya (Andrew) dari posisi Direktur BCA ketika membuat BCA rugi besar karena perdagangan valas, ternyata berbanding terbalik dengan penerus Grup Lippo di Indonesia, James Riady, yang dikenal lebih agresif dalam bermanuver.

“Tindakan menentukan Mochtar terhadap anaknya mengagetkan lingkaran bisnis Jakarta, termasuknya bosnya Liem, tetapi itulah manifestasi profesionalisme sang bankir.”

Liem Sioe Liong dan Salim Group, hlm. 229

Ketika Mochtar memilih untuk menjaga jarak dengan kekuasaan karena menurutnya “kekuasaan politik tidak berlangsung lama”. James justru memiliki hubungan yang sangat dekat dengan keluarga Clinton yang bahkan membuatnya harus membayar denda $ 8,6 juta karena turut membiayai kampanye Bill Clinton yang tidak diizinkan oleh aturan di US.

Dari buku tersebut juga saya belajar bahwa mempertahankan pengendalian pada aset yang bagus adalah harga mati bagi sebuah grup konglomerasi. Namun, kebutuhan modal untuk ekspansi dan utang yang menggunung kadang membuat mereka terpaksa harus berbagi kepemilikan dengan investor lain.

Tidak ada bedanya dengan pendiri perusahaan teknologi yang menggunakan multiple voting share (MVS) yang sudah mulai berlaku di pasar saham Indonesia untuk memperkuat permodalan perusahaan sambil tetap menjaga pengendalian, grup konglomerasi juga melakukannya dengan cara yang berbeda.

Mulai dari kocok ulang aset hingga IPO anak dan cucu usaha.

Karena itu, kejadian penjualan saham mayoritas Astra oleh William Soerjadjaja adalah sebuah kejadian yang sangat langka dan menunjukkan kebesaran hati William Soerjadjaja.

Beruntung, anak keduanya, Edwin Soerjadjaja bisa bertemu dengan anak muda jenius seperti Sandiaga Uno dan berkongsi untuk mengembangkan perusahaan investasi yang sekarang kita kenal bersama dengan nama Saratoga.

Setelah Grup Salim

Saat ini, kami telah merilis analisis pola aksi korporasi Grup Salim. Ke depan, kami juga akan membahas pola aksi korporasi dari grup konglomerasi besar lainnya di Indonesia.

Namun, seperti yang saya sampaikan di awal, seperti kami, kamu juga bisa mulai memahami grup konglomerasi di Indonesia dari Grup Salim dan buku yang paling komprehensif dalam membahas sepak terjangnya.


Mau dapet panduan investasi saham untuk pemula, watchlist saham potensial, dan teman diskusi sefrekuensi? Yuk langganan Paket Belajar INVESTABOOK. Dapatkan potongan harga 15% untuk pembelian pertama dengan membuat akun.

Alfisyahrin

Investor aktif sejak 2018. Suka ngulik data dan mengenali pola sejak kuliah di Sosiologi Universitas Indonesia. Percaya tentang pentingnya kualitas dalam berbagai urusan, termasuk dalam investasi. Sangat tertarik pada titik temu antara keuangan, media, dan teknologi.

Bagikan dan Diskusikan

Telegram
WhatsApp
Twitter
Facebook
0 0 votes
Rating Analisis
Subscribe
Notify of
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x

Rekap Laporan Keuangan Sudah Terkirim!

Silahkan cek email kamu!