INVESTABOOK

GJTL vs GDYR vs MASA: Mana yang Berkualitas?

PB <1, murah atau murahan? Tergantung seperti apa kualitas bisnisnya.

EV vs ICEV atau mobil listrik vs mobil bahan bakar minyak (BBM) menjadi hot topic bagi pelaku sektor otomotif belakangan ini. Tahun 2022 lalu menjadi momentuk yang baik untuk pertumbuhan EV di Indonesia. Penjualan EV berhasil tumbuh hampir 12x lipat, mencapai 7,923 unit per 11M 2022 (vs 685 unit FY 2021).

Pemerintah pun terus memacu penjualan EV dengan memberikan berbagai insentif mulai dari PPnBM 0%, diskon tarif listrik untuk jam tertentu, bebas aturan ganjil genap dan lainnya.

Meskipun begitu, kami menilai ICEV tetap akan mendominasi market mobil di Indonesia, setidaknya sampai 10 tahun ke depan. Infrastruktur EV yang masih terbatas, harga EV yang masih mahal dan nilai kepraktisan (convenience) menjadi alasan utama sebagian besar masyarakat Indonesia masih akan tetap memilih ICEV dibanding EV.

Hal yang serupa juga akan terjadi di market motor Indonesia.

Di samping itu, masih ada industri yang mendapatkan keuntungan di tengah persaingan EV dan ICEV, yaitu industri komponen otomotif.

Pick-and-shovel play.

Di INVESTASIGHT “AUTO vs SMSM: Satu Industri, Beda Nasib”, kami membahas kinerja 2 emiten komponen otomotif ternama. SMSM memiliki kinerja bisnis yang jauh lebih baik dibanding AUTO, meskipun AUTO merupakan bagian dari Grup Astra.

ROE SMSM 
ROE AUTO

Kunci keunggulan SMSM dibanding AUTO adalah fokus ke penjualan aftermarket dengan produk utama yaitu filter yang consumable.

Selain filter, produk komponen otomotif yang consumable adalah ban. Jika kendaraan rutin dipakai untuk kegiatan sehari-hari, maka wajarnya ban akan diganti sekitar 1-2 tahun sekali atau ketika kondisi ban sudah buruk.

Salah satu emiten manufaktur ban terbesar di Indonesia adalah PT Gajah Tunggal Tbk. (GJTL).

Mungkin teman-teman sudah tidak asing dengan GJTL. Nama GJTL sering kali muncul di berita karena Pak Lo Kheng Hong – salah satu investor besar di Indonesia – memiliki kepemilikan >5%.

Selain itu, ada juga 2 emiten manufaktur ban yang menjadi pesaing GJTL, yaitu PT Goodyear Indonesia Tbk. (GDYR) dan PT Multistrada Arah Sarana Tbk. (MASA).

Meskipun GJTL merupakan perusahaan manufaktur ban terbesar di Asia Tenggara, tetapi kinerja GJTL tidak jauh berbeda dengan GDYR dan MASA. Ketiga emiten ban sulit menghasilkan double digit ROE.

ROE GJTL
ROE GDYR
ROE MASA

Uniknya, MASA berhasil turnaround menghasilkan double digit ROE di tahun 2020 dan 2021 setelah mengalami kerugian dari tahun 2014-2019.

Melihat kinerja tersebut, kira-kira seperti apa kondisi market ban di Indonesia sehingga GJTL, GDYR dan MASA memiliki ROE yang mediocre? Mana yang memiliki keunggulan dibanding pesaingnya?

Yuk Lanjut Baca

INVESTABOOK Insight

 

Gabung Komunitas untuk baca selengkapnya!

Jika kamu sudah berlangganan, kamu bisa login di sini!

 

Dharma Djiauw

Investor aktif sejak 2019. Interested in internet, telco and tech.

Bagikan dan Diskusikan

Telegram
WhatsApp
Twitter
Facebook
0 0 votes
Rating Analisis
Subscribe
Notify of
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x