Mulia Keramik: Lebih Besar Belum Tentu Lebih Baik

Perusahaan besar belum tentu akan selamanya besar, begitu pun dengan perusahaan kecil. Perusahaan sebagai tolak ukur investasi adalah bukti kita terjebak dalam bias.

Kita sering menganggap jika perusahaan besar itu pasti baik dan aman. Padahal belum tentu loh. Buktinya ada kok perusahaan besar yang bangkrut. Banyak perusahaan besar yang kinerjanya terus menurun. Dalam dunia bisnis, yang besar bisa menjadi kecil, yang kecil bisa menjadi besar, dan yang besar juga bisa bertambah besar.

Hanya saja kita sebagai investor sering terjebak ke dalam cognitive bias. Seakan-akan perusahaan besar itu pasti akan tetap besar dan bertambah besar, padahal belum tentu. Perilaku seperti ini penulis lebih senang menyebutnya dengan istilah terbodohi diri sendiri.

“You must not fool yourself, and you are the easiest person to fool.”

Richard Feynman

Hati-hati jangan sampai terbodohi diri sendiri. Musuh terbesar di dalam investasi adalah diri kita sendiri. Sebagai seorang investor kita harus bisa mengambil keputusan seobjektif mungkin berdasarkan hasil analisis yang mendalam.

“Investing isn’t about beating others at their game, it’s about controlling yourself at your own game”

Benjamin Graham

Perusahaan itu ibarat sebuah castle kerajaan. Di mana raja memiliki tugas untuk menyejahterakan seluruh stakeholders yang ada di dalamnya, dari kalangan bawah (budak dan rakyat biasa) sampai dengan kalangan atas (bangsawan). Kerajaan yang akan bertahan adalah kerajaan yang mampu menjaga keseimbangan antar stakeholdernya (kesejahteraan) dan juga membangun parit yang lebar dari serangan musuh.

Ilustrasi kerajaan

Kerajaan besar belum tentu akan terus menjadi besar. Begitu pula kerajaan kecil belum tentu akan terus kecil. Yang besar berpeluang untuk menjadi lebih besar dan berpeluang juga menjadi kecil. Baik itu karena faktor internal (manajemen kerajaan), eksternal (serangan kompetitor), atau kombinasi keduanya.

Kita ambil contoh kisah Kerajaan Bizantium. Kerajaan yang pertahanannya sangat kuat, dikelilingi oleh lautan dengan benteng yang tebal. Secara nalar kita akan menilai kerajaan tersebut adalah kerajaan yang sangat kecil kemungkinan untuk bisa ditaklukkan. Tapi pada kenyataannya, kerajaan yang begitu besar dan seolah tidak mungkin untuk bisa ditaklukkan ternyata bisa ditaklukkan oleh serangan kompetitor dengan sebaik-baik pemimpin (manajemen) dan sebaik-baik pasukan (employee).

Terkadang yang besar itu terlalu lengah karena menganggap sudah besar. Ruang pertumbuhan yang sudah terbatas membuat ambisinya berkurang. Begitu pula dengan perusahaan. Perusahaan besar yang baik selalu tetap hati-hati dan waspada dari serangan kompetitor kecil yang berpotensi buat cannibalize their market share.

Seperti kasus Netflix dan Blockbuster. Pada tahun 1980 Blockbuster menguasai industri persewaan video, memiliki ribuan lokasi retail, dan jutaan pelanggan di 25 negara. Memiliki massive marketing budget, operasi yang efisien, dan membebankan biaya keterlambatan kepada konsumen membuat Blockbuster pada saat itu bisa menghasilkan cashflow yang besar. Blockbuster saat itu ibaratnya seperti well oil machine company.

Pada tahun 1997 ada perusahaan kecil yang masih belum ternama yaitu Netflix masuk ke industri yang sama dengan model bisnis yang berbeda. Apa yang terjadi?

Perusahaan kecil bernama Netflix tersebut, berhasil memorak-porandakan sang raksasa di industrinya yaitu Blockbuster’s yang memiliki brick and mortar business model pada zamannya. Hal itu membuat Blockbuster kehilangan pangsa pasar dan juga biaya keterlambatan yang menyumbang hampir setengah dari pendapatan Blockbuster saat itu.

Netflix sekarang telah menjadi perusahaan streaming video service yang memproduksi original film dan tv series dengan jutaan pelanggan. Meskipun tanpa biaya marketing dan iklan yang besar, tetapi dengan low cost distribution model membuat Netflix semakin besar.

Netflix yang awalnya kecil menjadi besar dan Blockbuster yang awalnya besar menjadi kecil. It’s possibly to happen to any company in business.

Seperti yang pernah dikatakan oleh Peter Bernstein that cone of uncertainty gets wider as time goes out. Berapa persen kemungkinan IBM bangkrut besok pagi? Jawabannya tidak mungkin. Bagaimana dengan setahun dari sekarang? Lima tahun dari sekarang? Tiga puluh tahun dari sekarang? Bagaimana jika seratus tahun dari sekarang? Poinnya adalah the possibilities increase as time goes out.

Apalagi di disruption era seperti saat ini, di mana perkembangan teknologi membuat business culture dan nature bisa berubah dengan sangat cepat. Saat ini lebih sulit untuk menebak mana perusahaan yang akan menjadi disrupter atau justru ter disrupted. Howard Marks menyebutnya dengan istilah new world order.

Hal ini semakin memperkuat akan tesis awal kita, jika yang besar belum tentu akan selamanya menjadi besar. Sehingga kita sebagai investor harus mencoba  lebih mendalami case by case untuk bisa menilai prospek perusahaan dengan lebih objektif, bukan hanya dari ukurannya saja.

Andaikan kita menjadikan ukuran sebagai tolak ukur objek investasi, bisa jadi pada tahun 1997 kita akan terjebak kepada salah satu perusahaan keramik terbesar di Indonesia pada masanya.

Perusahaan apakah itu?

Let try to dip in!

Yuk Lanjut Baca

INVESTABOOK Insight

 

Langganan & Akses 250+ Insight Lainnya

Jika sudah berlangganan, kamu bisa login di sini!

 

Mirsal Fazrulloh

Investor Saham & Anggota Quality Investor Club (QIC)

Bagikan dan Diskusikan

Telegram
WhatsApp
Twitter
Facebook
0 0 votes
Rating Analisis
Subscribe
Notify of

Insight Menarik Lainnya

0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x

Rekap Laporan Keuangan Sudah Terkirim!

Silahkan cek email kamu!