Pandemi COVID-19 membuat permintaan di berbagai industri mengalami penurunan tajam, salah satunya adalah industri otomotif. Hal ini memaksa produsen-produsen otomotif di beberapa negara menutup fasilitas produksinya.
Penjualan mobil secara global mengalami penurunan pada tahun 2020. Amerika Serikat mencatat penurunan hingga 14,8 persen menjadi 14,4 juta unit. Eropa bahkan mengalami penurunan yang jauh lebih parah yakni hingga 24,3 persen.
Sementara salah satu pasar otomotif terbesar dunia, yakni China mengalami penurunan penjualan yang terbilang cukup minim, hanya sebesar 6 persen saja menjadi 19,7 juta unit.
Dampak yang signifikan juga menerpa industri otomotif Indonesia yang sebenarnya telah melemah sejak tahun 2015. Seberapa parah dampaknya? Dan yang paling penting: Apakah era kejayaan industri otomotif Indonesia pada tahun 2009-2013 dapat terulang di masa depan?
Pukulan Berat Industri Otomotif
Di Indonesia, sejumlah produsen otomotif seperti Toyota, Daihatsu, Honda, dan Suzuki mengumumkan penghentian produksinya, menyusul penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk mencegah penyebaran virus COVID-19. Hal ini tentunya berdampak pada Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap jutaan pekerja dan membuat tingkat pengangguran menjadi meningkat.
Peningkatan jumlah pengangguran tentunya akan menurunkan tingkat daya beli masyarakat dan berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi. Benar saja, menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi Indonesia terkontraksi cukup dalam hingga menjadi -5,32% pada kuartal II 2020.
Akhirnya yang terjadi adalah perlambatan pada industri otomotif, dari mulai penurunan penjualan hingga produksi kendaraan, membuat beberapa perusahaan otomotif mengalami penurunan pendapatan dan laba. Inilah yang terjadi pada dua perusahaan otomotif besar di Indonesia yakni PT Astra Internasional Tbk (ASII) dan PT indomobil Sukses Internasional Tbk (IMAS).
Tercatat selama tahun 2020, ASII mengalami penurunan pendapatan dan laba hingga 26%. Pesaingnya yakni IMAS bahkan lebih parah, perusahaan harus rela mengalami kerugian.
Padahal di tahun sebelumnya perusahaan masih mampu meraih laba sebesar Rp 170 Miliar.
Yuk Lanjut Baca
INVESTABOOK Insight
Langganan & Akses 250+ Insight Lainnya
Jika sudah berlangganan, kamu bisa login di sini!